Jumat, 19 Desember 2014

Cerita Hot - Cerita Sex Sma Reuni SMA Vita


Namaku Vita, umurku saat itu masih22 tahun dan aku termasuk gadisyang lugu dan pendiam, tapi temanteman kantorku bilang aku adalahgadis yang sangat cantik jika tidakjudes. Aku merasa sangat bersyukur dikaruniai wajah yangcukup cantik dengan tubuh yangtinggi dan langsing serta kulit yangputih mulus. 

Sahabat wanitaku bilang, kalau dikantor cowok-cowok selalumembicarakan aku dan merekaselalu memperhatikan aku, apalagikalau aku sedang mengenakan rokspan dan blouse ketat busana kerjaku. Mereka bilang tubuhkusangat seksi dengan buah dadabesar yang aku miliki, tapi aku tidakpeduli dengan komentar mereka.Banyak dari mereka yang berusahamendekatiku tapi aku masih takut dan enggan untuk menanggapinya, aku lebih senang sendirian, akumerasa bebas dan tidak terikat. Singkat cerita aku diundang untukmenghadiri reuni SMA tempatkusekolah dulu, maklumlah sejaklulus SMA sampai saat kuliah danbekerja, kami memang sudahsangat jarang bertemu. 

Waktu sudah menunjukkan pukultujuh malam saat aku tiba dipelataran parkir sebuah kafe dibilangan Jakarta selatan, tempatreuni SMA ku di adakan, saat itu akumengenakan pakaian kerja, rok span hitam dan kemeja putih danaku memadukannya dengan blazerhitam, aku memang tidak sempatberganti pakaian karenakesibukanku di kantor, tapi takapalah , dengan pakaian ini aku cukup PD untuk bertemu denganteman teman SMAku, pikirku. "Aduh .. Tuan putri ini makin cantikaja .. !!" seru Nina, kawan satukelasku waktu di SMA. Hari itu akumerasa sangat senang, bertemudengan teman teman SMA-ku, acaranya juga cukup meriah, di hadiri oleh lebih dari seratus orang, yang semuannya adalah alumnisekolahku. 

"Astaga .. Sudah jam berapa nih .. !!" gumanku di sela kebisingan bingarmusik, aku sampai lupa waktukarena asyik ngobrol denganteman temanku. "Nanti aja pulangnya Vit .. !!" seru Cindy sambil menarikku ke depanpanggung, saat itu di ataspanggung sedang di pentaskanlive music dan tampak beberapapasangan tampak asyik ber slowdance mengikuti alunan music yang memang sedang berirama pelan. Terus terang saat itu aku memangterbawa suasana pesta, sayangkalau aku harus pulang cepatpikirku, aku malah ikut ikutanmenenggak wine. Seumur hidupbaru kali ini aku minum minuman keras, sehingga kepalaku terasapusing, apalagi music sudahberubah menjadi house music danhip hop membuat kepalaku makinberputar putar tak karuan. 

"Ayo Vit .. !! kapan lagi .. Belum tentusetahun sekali nih acara ini dibuat .. !!" seru Nina sambil menari-nari dan menjerit jerit histeris.Kayaknya Nina sudah mulai maboknih .. !! Pikirku. Tiba tiba aku merasa lenganku ditarik oleh seseorang, rupanyaSuryo dia teman satu kelasku saataku kelas tiga, "Ayo Vit .. Kitamelantai .. !!" ujar Suryo sambilmenarikku ke atas panggung. "Nggak mau ahh .. Yo, lagi pusingnih .. !!" keluhku, tapi Suryo tetapsaja menggandengku, mau tidakmau aku jadi mengikutinya ke ataspanggung, aku mulai menggerakgerakan tubuhku mengikuti alunan music yang menghentak hentak, aku sudah setengah sadar akibatpengaruh wine yang ku minum tadidan aku juga benar benarterhanyut dalam histeria suasanapesta, sehingga aku tidak bisa lagi mengontrol gerakan tubuhku, gerakanku menjadi lebih beranidan terkesan erotis, sementaraSuryo sudah berada dibelakangtubuhku, mengikuti danmengimbangi gerakanku.

Dan anehnya aku sangat menikmatisuasana tersebut, padahal selamaini aku terkenal sangat anti Denganhal yang berbau dugem. Ah .. Nggakapa apa deh sekali ini aja .. Pikirku. "Buka .. Buka .. Buka .. !!" kudengarteriakan teman-temanku sambilbertepuk tangan menyuruhkumembuka kemejaku, aku sempatterkesiap mendengar teriakanmereka. Kulihat ke arah samping, beberapateman wanitaku memang sedangmembuka pakaian bagian atasmereka, bahkan Nina sudah mulaimembuka branya sehinggasebelah payudaranya tampak sudah menyembul keluar danlangsung di sambut dengan tepuktangan dan teriakan riuh rendahdari teman temanku. 

Anehnya walaupun agak risih, akhirnya aku mau saja menurutikemauan teman teman ku itu, entahkarena pengaruh wine ataumungkin aku sudah begituterhanyut dengan suasana pesta tersebut, sambil tetap menggoyanggoyangkan tubuhku, ku lepaskanblazerku dan perlahan lahankubuka kancing kemeja putihkusatu persatu sampai terlepasseluruhnya sehingga bra hitam yang kukenakan tampak jelasterlihat . Sementara lengan Suryomulai memegang pinggangku daribelakang, sambil tetap mengikutigerakanku. 
 
Aku terus terhanyut dengan alunanmusik yang menghentak hentak itu, sesekali ku angkat kedua tangankuke atas, meraih rambut panjangkudan menariknya ke arah belakangsambil tetap menggerak gerakkan tubuhku, tiba tiba aku tersadar saattangan Suryo berusahamelepaskan braku. "Apa apan kamu Yo .. !!" jeritkusambil mendekap dadaku, saat itukancing belakang braku sudahterlepas, perbuatan Suryo itulangsung menyadarkanku daripengaruh wine dan suasana pesta. "Brengsek kamu .. Apa yang kamulakukan ..?" teriakku sambilberusaha merapikan kembalikemejaku. 

Tapi sepertinya Suryo tidakmengindahkan teriakanku, tangannya dengan sigap langsungmemeluk tubuhku dari belakang, membuat aku tidak bisa merontadan melepaskan diri dari himpitan tubuhnya, sementara sebelahtangannya merenggut paksa Brayang kukenakan sampai terlepasdan jatuh ke lantai, sehingga kinitubuh bagian atasku terlihat jelasdan menjadi tontonan untuk teman- temanku yang langsungmenyambutnya dengan sangatantusias. 

"Suryo .. !! Hentikan .. Lepaskansaya .. Kurang ajar .. Kamu .. !!" jeritkusambil terus meronta dari himpitandan pelukannya, tapi Suryo malahmakin beringas, dia malah menarikdan menyeretku ke arah belakang panggung, di tempat ini sinarlampunya lebih redup dan agaktersembunyi dari pandangan temantemanku, tangannya dengan buasterus meremas remas ke dua buahdadaku, sementara mulutnya juga terus menciumi sekujur leherku, akumasih terus menjerit jerit danmeronta, tapi Suryo tetap saja tidakmenghentikan perbuatannya, malah dia semakin nekat. "Kamu sebaiknya diam aja, daripada nanti gua perkosabeneran .. !!" bentaknya, dengannada galak. Otakku buntu, mendengarancamannya, aku tak mampuberpikir lagi bagaimana caranyauntuk menghindar daricengkeraman Suryo. 

Mungkin inijuga karena kesalahanku. Karena terlalu terhanyut dengan suasanapesta, keluhku menyesalikebodohanku sendiri. Aku masihmematung ketika mulutnya mulaimenciumi Buah dadaku dan lalumengulum putingku. Sementara tangan kirinya meremasi buah dadakananku. Aku benar-benar bagai bonekayang diam saja, padahal bahayamengancamku. Hanya ada saturasa .. 

Ketakutan yang amat sangat.sampai saat Suryo menyingkapkanrokku ke arah atas dan mulai meremasi buah pantatku, Aku masihtak mampu bereaksi. Bahkan tanpakusadari tubuh bagian bawah Suryosudah mulai menggesek gesekdaerah sekitar selangkanganku.Tapi ketika dia mulai memelorotkan celana dalamku dan bersiapmenghujamkan batang penisnya keselangkanganku, Aku terkesiap, mendadak kesadaranku pulih. Akuberontak keras, sekuat tenagamelepaskan dari dekapannya.

"Jangan jangan .. !! Lepaskan .. !! Saya masih perawan Yo .. !!" jeritkupanik dan ketakutan, sambilkugerakkan tubuhku ke arahdepan, menjauhkan vaginaku daribatang penisnya. "Diam Vit .. !! Layani gua baik-baik, atau gua paksa .. !!" ancam Suryo. Aku tetap berontak. "Kalau nggak mau diam gua tamparlu" "Hentikan .. Atau saya laporkan keteman-teman !!" bentakku tegas. Mendadak Aku punya kekuatanuntuk membentaknya, tiba tibapelukannya mengendor.Kugunakan kesempatan ini untukmelepaskan diri. Suryo tidakmencoba menahanku. 

Aku berhasil lepas! "Kamu cantik .. Dan Tubuhmubagus .." guman Suryo. Aku cepat-cepat mengenakankembali celana dalamku yangmelorot dan membereskanpakaianku, kini Suryo yangmematung. Matanya tajammemandang ke arahku. "Baiklah .. Gua minta maaf untukkejadian ini .. Habis kamu cantiksekali sih Vit, gua jadi lupa diri .." Aku diam. "Kamu masih mau jadi temankukan?" Aku tetap diam sambilmemandangnya dengan penuhkemarahan. 

"Saya enggak akan mengganggukamu lagi Vit, tapi sebenarnya sayasudah tertarik dengan kamu daridulu" Aku makin jijik mendengar katakatanya. "Oke, saya tunggu sampai kamubersedia melayani gua tanpa guapaksa .. !!" ujarnya kesal, sambilberjalan menjauh dari tubuhku, akusempat menarik nafas lega. Tapi tiba-tiba Suryo menyergapdan memegang kedua bahuku danlalu mencium bibirku. Aku sangatkaget mendapat serangan takterduga ini, aku kontan berontak. 

Tapi Suryo malah memelukku lebih kencang. Sehingga aku Makin tidakdapat bergerak. Dia semakinmempererat pelukannya. Akumenyerah, toh dia hanyamenciumku. Dilumatnya bibirkudengan ketat, Aku diam membiarkan, tak berreaksi. Bibirnya melumat habis bibirku, Akumasih mematung, tak membalaslumatannya juga tak berdaya untukmelepaskannya Lalu lidahnyamulai menyapu-nyapu bibirku dandiselipkan ke mulutku. 

Aku merinding. Baru sekali ini bibirku dilumat oleh lawan jenis dan tiba tibaaku kembali dilanda olehketakutan yang amat sangat. Tangan kanannya membukakembali kancing kemejaku, lalutelapak tangannya merabaibulatan buah dadaku. Tubuhkubergetar karena ketakutan dan Akumulai kembali meronta. Dadaku serasa sesak dan sulit bernafaskarena lumatan mulutnya di bibirku. 

Dengan cepat seluruh kancingkemejaku kembali dilepaskannyasehingga tubuh bagian ataskukembali terbuka. Kemudian Suryomemutar tubuhnya, sehinggaposisinya kini kembali berada di belakangku, lalu dia mendorongtubuhku sampai rebah ke atas mejayang di gunakan untuk meletakkanalat alat sound system, Entahkenapa Aku merasa tubuhku tibatiba lemas. Demikian pula ketika Suryo mulai menindih tubuhku dariarah belakang. Tangannya menyingkapkankemejaku ke atas dan lidahnyamulai menjilati sekujur punggungdan pundakku, sementara satutangannya meraih buah dadakudan meremasnya dengan kasar. 

"Lepaskan .. !! Tolong .. Tolong .. !!" teriakku sangat ketakutan ketikatangannya bergerak menyusup kesela sela rok-ku, kemudian jari-jarinya menyusup ke balik celanadalamku dan menggosok-gosok selangkanganku. Aku terus meronta dan berteriakminta tolong, sampaitenggorokanku serak tapisepertinya teriakkanku tertelanoleh suara hingar bingar musik. Tibatiba Suryo dengan sigap menyingkapkan rok ku danlangsung memelorotkan celanadalam yang kukenakan sampaisebatas lutut. "Jangan .. !! Tolong .. !! Janganperkosa saya .. !!" jeritku panikkarena merasa vaginaku sudahtidak tertutup dengan apa apa lagi, sambil makin memperkuatrontaanku, Dan berusaha mengatupkan ke dua belah pahakusekuat tenagaku. Aku masih terus menjerit danmeronta sekuatnya ketika diadengan paksa berhasilmembentangkan pahaku lebar-lebar. 

Aku makin menjerit histerisdan putus asa saat ku rasakan batang penisnya mulai menempeldi selangkanganku. Detikberikutnya penis hangat itu telahmenggosoki vaginaku .. Saat berikutnya lagi benda hangatitu terasa tepat menekan bibirvaginaku .. Lalu kurasakantekanan .. Sehingga bibir vaginakuterasa sesak .. Aku tersentak..Secara refleks pahaku menutup, tapi Suryo berhasil membukanyalagi dan mencoba menusukanbatang penisnya lebih dalam lagi. "Oh .. Ini tidak bisa terjadi .. !!" pikirku. 

Aku mengatupkan pahaku lagi.Tapi, seberapalah kekuatankumelawan Suryo yang telah di liputinafsu bejad ini? Kedua belahtangan kuatnya menahan katupanpahaku dan batang penisnya mulai menekan lagi. Tangannya bolehmenahan pahaku, tapi Aku masihpunya ruang untuk menggerakkanpinggulku dan membawa hasil, batang penisnya terpeleset! Tapi itu malah membuat Suryomenjadi lebih penasaran, dengankasar dibukanya lagi pahaku laludia mulai mengarahkan batangpenisnya langsung ke liangvaginaku, kemudian ditekannya kuat kuat, dan .. Ohh .. Kurasakanbenda hangat itu mulai menusuk.Rasanya kepala penisnya telahmasuk. Pegangan tangannya padapahaku kurasakan mengendor .. 

Kugunakan kesempatan ini untuk menutupkan pahaku kembali. Tapitekanan tusukannya tak berkurang, justru bertambah, sehingga batangpenisnya tak lepas dari liangvaginaku. Malahan seolah akumenjepit kepala penisnya yang telah masuk itu. Rasanya Aku mulai menyerah, takada gunanya melawan Suryo yangsudah di liputi oleh nafsu bejadnyaitu, aku sudah tidak mampuberontak lagi untukmempertahankan kehormatanku. Air mataku meleleh .. Aku menangis. Tapi, tiba tiba Suryo dengan cepatmenarik batang penisnya lalutubuhnya rebah di atas tubuhku.Detik berikutnya kurasakan cairanhangat membasahi punggung danrok hitamku yang tersingkap. 

Aku sedikit lega, rupanya Suryo telahkeluar .. Meskipun belum penetrasi.Belum? Tepatnya belum sempurna.Aku yakin baru kepala penisnyasaja yang masuk. Aku mencobameyakinkan diriku sendiri bahwa tadi memang belum terjadi sesuatu. Suryo gagal memaksakankehendaknya untukmemperkosaku, aku sangatbersyukur karena kegadisankumasih utuh dan tidak berhasil direnggut oleh Suryo. 

Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Suryo lalu bangkit. Merapikankembali pakaiannya dan pergimeninggalkanku, tanpa berkatasedikitpun. Aku pun langsungberdiri, dengan tangan masih gemetar, buru buru ku bereskanletak pakaianku, lalu bergegasmenuju pintu keluar, aku tidakmempedulikan lagi sapaan temantemanku, tujuanku hanya satu..Ingin cepat cepat pulang ..

Aku makin mempercepat langkahkumenuju ke arah mobilku yang kuparkir di ujung bangunan ini, buruburu kuambil kunci mobil dari taskudan langsung membuka pintu mobilsaat tiba tiba muncul dua orang laki laki dari mobil yang di parkir di belakangku. "Oh .. !!" Aku Kaget bukan kepalang, tapi terlambat untuk berteriakketika salah seorang diantaramereka langsung menyergapkudan membekap mulutku, aku hanyabisa melihat yang berdiri di depanku adalah Suryo, diamenyeringai ke arahku, sepertinyadia tidak terima dengankegagalannya tadi. Sementarayang seorang lagi aku tidak tahu. 

Kemudian dengan mulut yangmasih terbekap merekamenyeretku dan memaksaku masukke sebuah mobil minibus milikmereka, kulihat bangku bangkumobil itu sudah di rebahkan, hingga rata, membuat orang yangmembekap mulutku, leluasa untukmenarikku ke arah dalam. Lalutanpa bersuara Suryo langsungmasuk dan menutup pintu mobil.Tiba-tiba Aku sadar akan bahaya yang kembali mengancamku.Celaka .. !! "Jangan .. !!" gumanku. "Sstt .." jawab Suryo sambil memberitanda menyilangkan jari di bibirnyadan mendekatiku. Keduatangannya memegang bahu kanankiriku. 

Lalu sebelah tangannya membelai pipiku. "Vita .." panggilnya dengan suarapelan. Membuat Lidahku langsungkelu. "Gua minta kamu rela dan janganmelawan .. !!" jarinya merabai bibirku. "Jangan .. !!" jeritku saat aku berhasilmelepaskan mulutku dari bekapantemannya. Tapi jeritanku langsung terhentikarena bibir Suryo cepat menutupbibirku dan lalu melumatnyadengan kasar. Kedua belahtangannya merangkul tubuhku. 

Akudipeluknya erat sekali. Sementara kedua tanganku di pegang denganerat oleh temannya. Aku berhasilmelepas ciuman, tapi tak mampumelepaskan rangkulannya. "Kumohon .. !! Jangan" katakumengiba. Dadaku diremasnya. Aku menjerit.Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula. Aku makinmenjerit. Masih sambil memeluktubuhku Disingkapkannya rok kudan Suryo langsung memelorotkan celana dalamku. Gerakan yangtiba-tiba dan tak terduga ini gagalkucegah. Lalu Suryo bergerakmembenamkan wajahnya di antaraselangkanganku. 

Kututup pahakuhingga menjepit kepalanya. Gerakanku membuat Suryolangsung bangkit melepaskanjepitan pahaku. "Brengsek kamu Vit .. !! Mau di kasihenak kok ngelawan terus .. !! Nikmatiaja .. !!" "Jangan .. !!" kataku setengahmenangis. "Sekali ini saja, sesudah itu saya tidak akan ganggu kamu lagi, Vit .. !!" Lalu tangan Suryo kembalimembuka pahaku. Gratis. Sia-siasaja melawan gerakan Suryo yangkuat apalagi ku rasakancengkeraman di kedua tangankumakin erat, membuat aku semakin putus asa, akhirnya Kubiarkan suyomenjilati liang kewanitaanku. 

Akumerasa amat malu dan terhina diperlakukan seperti ini Tapi Aku hanya bisa menangis danpasrah. Semoga dia tidak sampaimemperkosaku .. Aku muak diperlakukan seperti ini, tapi Aku takberdaya melawannya. Aku benci .. !! Aku menyesali diriku sendiri yang tak berdaya melawan, dalamkeadaan frustasi begini apa yangbisa kulakukan selain menangis .. 

Apalagi kini Suryo telah membukaresleting celananya danmengeluarkan batang penisnyayang sudah tegang dan keras, benda yang pernah sebentarmemasuki liang kewanitaanku dan kini akan memasukinya lagi.Tangisanku yang sesenggukantidak menghentikan gerakan Suryoyang sudah membentangkanpahaku dan siap menusukanbatang penisnya. 

Suryo kemudian merangkak dan mulai menindihku. "Jangan .. !!" gumanku lemah, saatSuryo mulai melepaskan kancingkemejaku, aku masih sesenggukan. "Sekali ini saja .. Vit. !!" "Lepaskan saya .. !!" pintakumemelas sambil terus menangis saat Suryo mulai menciumi danmengulum putting buah dadaku. "Buah dada kamu besar padatsekali .. Sungguh indah" sambungnya sambil terusmengulum payudaraku kiri dan kanan.

"Kamu cantik sekali .. Vit .. !!" katanyalagi sambil tangannya terusmeraba dan menggerayangiseluruh tubuhku. "Itulah kenapa tadi gua cepet keluarnya .. !!" Akunya. Aku hanya bisa diam sambil terusmenangis menerima seluruhperlakuannya. "Oke, sekarang jangan nangis lagiya .. Gua sekarang akan benarbenar memperkosa kamu .. !!" Aku kembali menjerit histeris danputus asa mendengar kata-katanya. Lalu Suryo bangkit. 

Dibukanya pahaku lebar-lebar, kemudian dia mengambil posisi diantara ke dua belah pahaku, siap untuk menghujamkan batangkemaluannya ke dalam liangvaginaku .. "Jangan .. Lepaskan .. !!" jeritkusambil terus meronta, ku stroke-lejangkan ke dua kakiku, berusahamenyingkirkan tubuhnya dariselangkanganku. Tapi Suryo malahmakin menusukan batang penisnya sehingga kepala kemaluannyamasuk di antara bibir vaginaku. Ditekannya lagi sambil membentangpahaku lebih lebar. 

Perlahanbatang penisnya menyeruak lebihdalam. Aku terus berharap agar Suryotidak kuat, lalu segera mencabutbatang penisnya danmenumpahkan cairan spermanya diluar liang vaginaku sepertikejadian yang baru lalu tapi harapanku meleset .. Suryo terusmenekan batang penisnya, memaksanya masuk ke dalam liangvaginaku yang sempit .. 

Mataku terpejam menungguTekanan selanjutnya, dan tekananbatang penisnya kurasakansemakin kuat, mendesak masuk kedalam liang kemaluanku. Bukansakit lagi yang kurasakan tapi ngilu yang tak tertahankan. Sehinggatanpa sadar kepalaku terlempar kekiri dan ke kanan. "Aduuh .. Sakitt .. !!" jeritku terengahengah. Lalu pinggul Suryo membuatgerakan memompa. 

Rasa ngilumakin mejalari sekujur tubuhku.Kuangkat kepalaku, Aku sempatmelihat kepala penis Suryo timbultenggelam seirama gerakan pompaannya. Pompaan kecil, hanya ujungnya saja yang keluarmasuk. "Sakit .. !!" jeritku .. Sambil terusmeronta. Lalu kurasakan Suryo menambahtekanannya. Kembali kurasakanngilu dan sakit yang amat sangat diselangkanganku. "Aauuff" seruku. "Sakit .. !!" jeritku saat kurasakanada yang terkoyak di dalam liangvaginaku.

Rasa perih langsung melanda seluruh kemaluanku, keduatanganku mengepal dengan keras, tubuhku menegang dan matakumelotot. Aku sampai menggigitbibirku sendiri, karena tidak sanggup menahan ngilu dan perihsaat kegadisanku direnggut paksa .. Kulihat lagi ke bawah. Separuhbatang penisnya telah tenggelamdi selangkanganku. Suryo benar-benar telah memasuki tubuhku.Suryo benar-benar telahmemperkosaku .. !! Merenggut keperawananku. 

Suryo mulaimemompa lagi, kini pompaannyasemakin cepat. Rasa sakit makinmenjadi jadi. Dan ketika diamenekan lebih kuat lagi, rasa sakityang kudapat. Makin tak terhingga bercampur dengan dengan rasangilu. Sampai akhirnya seluruhbagian tubuh Suryo telah menindihketat ke tubuhku. 

Pada saat Suryo berhentimemompa, kulihat bulu-bulukelamin kami memang telah salingmenempel ketat. Batang penisnyatelah seluruhnya tenggelam didalam liang vaginaku tubuhnya rebah menindihku, kedua belahtangannya menyusup kepunggungku dan memeluk kuattubuhku. Perlahan pinggulnya mulaimemompa. Naik-turun dan kanan-kiri. 

Kadang diputar. "Ooh .. Kamu benar-benar masihsempit Vita .. !!" bisiknya dekattelingaku. Dia benar-benar telahmenyetubuhiku. Aku hanyamemejamkan mata sambil terusmenangis sesenggukan, tidaksanggup menatap wajahpemerkosaku. 

Kuharap penderitaanku ini segera selesai, aku berharap Suryo segeramencapai orgasme danmelepaskan batang penisnya dariliang vaginaku, sehingga rasasakitku pun bisa segera sirna. Tapi harapanku kembali meleset.Sudah belasan pompaan tak adatanda-tanda Suryo akan menyudahiperkosaanya, justru hunjamanbatang penisnya makin menjadijadi di dalam liang kemaluanku. 

Suryo terus memompa tubuhku danterus memperkosaku tanpa pedulidengan aku yang terus menjeritjerit kesakitan .. Tiba tiba Suryomengangkat punggungku danmempercepat gerakannya. "Ohh .. Sempitnya vagina kamuVit .. !!" dekapannya di punggungkumakin erat sambil menghujamkanbatang penisnya dalam-dalam kedalam liang kemaluanku. 

Tubuhnyadiam memeluk tubuhku .. Beberapa saat kemudian tubuhnya bergetar. "Jangann .. !!" jeritku panik saatsadar dia akan berejakulasi didalam liang rahimku .. Tapi terlambat, bersamaan denganitu aku merasakan cairan hangatmenyemprot dan membanjiri liangvaginaku. "Ooh .. Vit .. Tubuh kamu indahsekali .." bisiknya di dekat telingakusambil masih terengah. Aku diam. 

Pipiku diciumnya, lalu ... "Vaginamu .. Nikmat banget .." Aku masih diam. "Sempit sekali Vit .." Tiba-tiba Aku tersadar. Ucapanucapannya membuat aku inginmuntah. Dalam diriku tiba-tibamuncul rasa benci. Benci kepadadiriku sendiri kenapa harusmengalami kejadian ini. Juga benci kepada tubuh Suryo yangmenindihku, aku marah. Darahkumendidih. Aku berontak. 

Dengansekuat tenaga Aku lepas daridekapan Suryo dan tubuh ituterguling dari badanku. Aku berusaha membuka pintu mobildan melarikan diri, tapi teman Suryolangsung menangkapku, langsungmenggumuliku. Dan aku kembali diperkosa .. Entah sudah berapa kaliaku di gilir oleh mereka malam itu .. Sampai akhirnya aku tidaksadarkan diri. 

Esok paginya aku terbangun, danaku sudah berada di dalammobilku sendiri .. Tapi aku tahu..Kejadian semalam bukan mimpi, karena rasa sakitnya masihkurasakan menjalari seluruh tubuhku. Aku hanya bisa menangisdan meratap, menyesali kejadianyang menimpa diriku .. END

Cerita Sex Sma - Cerita Hot Ngentot Cewek SMA Tetangga


Namaku adalah Arif (samaran) adalah siswa salah satu SMA negeri ternama di kotaku di provinsi. Aku sudah lama naksir sama cewek SMA tetangga, yah sebut saja Ira (samaran men, untuk menjaga nama baik). Anaknya cantik, banyak yang naksir sama dia, cukup populer juga disekolahnya. Sebenarnya, aku belum berani ngungkapin perasaanku ke Ira, boro-boro nembak, mau sms aja aku sudah gemetaran. Hahaha…maklum bro, aku ada masa lalu yang pahit, jadi trauma mau ndeketin cewek.
Lalu, aku punya sahabat namanya Rangga dan Tama, merekalah yang selalu menjadi tempatku berkeluh kesah kalau menyangkut masalah Ira.
Suatu hari, saat disekolah sedang tidak ada pelajaran, aku keluar kelas, mendengarkan lagu menggunakan headset sambil melamun tentang Ira. Aku begitu terbawa dengan lamunanku sehingga tanpa sadar, Rangga dan Tama sudah berdiri di sebelahku.
”Woy, kamu lagi ngapain heh! Kesambet ntar loh!”, Rangga memukul punggungku menggunakan buku ekonomi yang tebalnya 200 halaman. Sontak aku loncat berdiri.
”Heh setan, kamu pengen aku mati jantungan?!” semprotku.
”Apa lah Rif? Mesti lagi mikirin komandan yah? Hahahahaha” Tama ngikut percakapan kami. Aku dan Tama biasa menyebut Ira dengan call-sign “komandan”.
“Alaaaa….Ira mulu dipikirin. Kafe Blabag yuk! Laper neh coy!”, Rangga menyahut.
”Gak! Ogah! Gak ada duit!”, jawabku sinis.
”Hah? Tam, rika percaya?” ,tanya Rangga ke Tama dengan logat Jawa-nya yang kental.
”Ora..ora..bocah kaya iki koh.” ,jawab Tama dengan aksen yang tak kalah kental
Rangga dan Tama adalah anak pindahan dari daerah apa lah namanya. Mereka sering bicara dengan bahasa ibu mereka.
”Laaah…pada ngomong apa sih? Gunakanlah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar! Aku ga paham nih!” ,potongku dengan ekspresi datar.
”Hahahahaha…makanya kalo guru ngajar bahasa Jawa dengerin dong!”,tawa Rangga sinis.
”Udah lah, ikut aja yuk! Cepetan…ntar kita traktir deh! Mumpung pak Junaedi gak ngajar! Bentar lagi juga bel pulang kan?”, kata Tama sambil menarik tanganku.
Sebenarnya aku malas, tapi daripada didepan kelas kaya orang ****, lebih baik ikut mereka, maka aku masuk ke kelas dan keluar sambil membawakan tas Rangga dan Tama dan juga tasku sendiri. Kafe Blabag terletak di persimpangan dekat sekolahku, Cuma butuh 5 menit jalan kaki. Aku menggendong ranselku dengan malas. Memang, hari ini perasaanku tidak enak.
Setelah berjalan beberapa menit, tampaklah kafe Blabag dengan motor-motor pengunjung yang berderet rapi. Aku melihat ada satu motor yang sangat kukenal, darahku berdesir. Sekilas kulirik Tama dan Rangga, mereka seperti menahan senyum. Perasaanku semakin tidak enak. Kami pun masuk kafe, kulihat di bagian pojok kafe, ada beberapa cowok dan cewek. Semuanya masih memakai seragam SMA. Tidak ada seorangpun yang kukenal.
”Yo!”, sapa Rangga kepada salah satu temannya.
”Yo! Kabur Ngga? Hahahahaha ”,sahut temannya. Kalau nggak salah, namanya Setyo, anaknya tinggi besar, khas preman terminal.
”Hei Luna. Udah lama nunggu?”,tanya Tama kepada salah satu cewek yang (setahuku) ditaksir berat sama Tama. Kemudian mereka ngobrol berdua.
Sejenak kemudian mereka semua sudah ramai ngobrol ngalor ngidul gak karuan. Aku cuma duduk manis mendengarkan dan sesekali tertawa kalau ada hal-hal lucu (gak ada yang kenal coy!). Aku melamun, prasaanku masih tidak enak sewaktu lihat motor yang diparkir didepan tadi. Aku yang tidak tahu apa-apa dengan polosnya memasang headset, menunduk dan sibuk memilah-milah lagu dari HP ku. Setelah kutemukan lagu yang pas, aku menyetelnya dan telingaku dipenuhi alunan musik favoritku, aku tersenyum dan menengadahkan kepala.
Aku tercekat. Seakan-akan ada seorang kuli bangunan veteran yang mencekikku. Di hadapanku Ira berdiri, kedua tangannya dimasukan saku jaket. Dia menatapku sambil tersenyum, manis sekali. Aku semakin megap-megap.
“Headsetan aja! Ntar budek loh!”,kata Ira sambil menyambar headsetku.
”Laporan dulu gih sama komandanmu!”,Tama menyikut lenganku.
Entah kenapa, mungkin karena terkesima dan kaget, aku hanya mampu berbicara dengan tidak jelas, “Haah? Koman….dan? Haaaaahh?”,ucapku tak jelas.
Semuanya tertawa keras sekali, Rangga tertawa sampai mengeluarkan air mata, dan Setyo memukul-mukul meja sambil tertawa. Entah seperti hewan apa mukaku saat itu, setolol apa, aku tidak tau, tapi yang jelas aku malu sekali. Aku tidak menyangka kalau Ira adalah salah satu dari kelompok kami ini.
Kemudian aku ikut aktif ngobrol bareng, ternyata mereka semua anak-anak yg baik & supel, ramah pula. Segera saja aku mendapatkan tempat dalam kelompok ini.
Sejak saat itu, kami sering main bersama dan aku mulai hafal anggota geng kami satu persatu. Aku jadi dekat dengan mereka, dan karena mereka juga, aku jadi bisa mendekati Ira lebih jauh.
———————————————————————————-
Kami semua semakin akrab. Waktu itu kebetulan kami main bersama-sama.
Kami memutuskan untuk berjalan-jalan di mall. Anak-anak cewek yaitu Angel, Ira, Luna dan Dian berencana melihat-lihat pakaian sementara aku, Tama, Setyo, dan Rangga akan melihat pameran gadget yang diadakan di lantai 5 mall tersebut. Kami berangkat menggunakan mobil Rangga yang cukup besar.
Seperti kebanyakan cewek-cewek kota, Angel, Luna dan Dian mengenakan kaos dan hotpants, namun Ira mengenakan kaos dan celana jeans panjang. Memang Ira memakai kaos yang cukup tertutup namun ketat dan dibagian dadanya agak longgar sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi dan belahan dadanya yang menantang.
Aku duduk disebelah Rangga yang menyetir, sementara Angel, Luna, Dian dan Ira duduk berdesakan di bangku tengah dan Setyo serta Tama duduk dibangku paling belakang.
Di mobil, anak-anak cewek sibuk berkicau
”Eh Ira, kamu seksi banget deh…” celoteh Angel
”Iyaa…kesannya gimana gitu…hahahaha” kata Dian dilanjutkan dengan tawa cewek-cewek lain.
Ira kelihatan salah tingkah dan berusaha menutupi bagian dadanya yang agak terbuka.
”Ah masa sih…kaosku lagi di cuci semua…aku nggak tau kalo kaos ini kekecilan”
Kemudian mereka meributkan masalah lain, seputar kosmetik, trend fashion dan banyak hal tetek bengek lain yang tidak penting bagi para cowok. Tama dan Setyo sedang sibuk membicarakan salah satu handphone di majalah gadget yang dibawa Rangga. Aku pura-pura memainkan handphone, walaupun aku sesekali melirik belahan dada Ira yang duduk di bangku tengah namun berseberangan dengan aku. Aku menelan ludah.
Ketika hampir sampai di mall, tiba-tiba hujan deras turun.
”Waaah…ujan nih, mana tempat parkiran basement penuh lagi. Guys, cari tempat lain yuk…” ujar Rangga
”Wuuuu….nggak mau! Kan disana ada pinjaman payung!” jawab anak-anak cewek kompak
”Oke…oke…whatever…hehehe” Rangga tertawa ringan dan mengarahkan mobilnya masuk ke parkiran mobil yang ada di tempat terbuka.
Setelah mobil kami diparkir, kami turun dan berlari ke sebuah kanopi. Kebetulan saat itu ada 3 tukang parkir yang akan kembali ke pintu masuk mall, mereka membawa 4 payung. Maka semuanya meminjam payung dari ketiga tukang parkir tersebut. Aku dan Ira tertinggal dibelakang. Aku melihat mereka semua menembus hujan menggunakan payung sementara aku dan Ira hanya menatap mereka.
Sudah 5 menit berlalu, namun belum ada orang yang menjemput kami.
”Lari aja yuk? Nggak sampai 100 meter inih” ucapku kepada Ira
Ira hanya mengangguk. Kami berlari menembus hujan yang ternyata cukup lebat itu.
Ketika kami sampai di pintu masuk mall, kami sudah basah kuyup, tetapi aku tidak terlalu basah karena jaketku yang water-proof.
”Waduh…maaf ya…tadi tukang parkirnya malah pergi nggak tau kemana” kata Rangga
”Iya. Kita mau minjemin payung buat kalian malah mereka pergi. Mana payungnya dibawa semua lagi” Angel menggerutu
Aku mengangguk. Kulirik Ira, ia kedinginan, tubuhnya basah kuyup. Gilanya lagi, karena kaosnya basah, maka setiap lekuk tubuhnya yang indah tercetak jelas dan belahan dadanya kini lebih terekspos. Aku menelan ludah melihatnya.
Kami melangkah masuk ke mall. Kuperhatikan, setiap pasang mata disana memperhatikan belahan dada Ira yang terlihat sangat mengesankan. Teman-teman yang lain tidak tahu karena mereka berjalan di depan.
Ira mati-matian berusaha menutupi dadanya, ia terlihat malu sekali dan tidak berani menatap orang-orang di sekeliling kami, lebih parahnya lagi, ia menggigil. Aku kasihan melihatnya, maka aku segera berlari ke counter minuman terdekat dan membeli segelas teh hangat kemudian kembali kesampingnya.
”Nih…” aku menyodorkan teh itu padanya
“Makasih Rif” jawabnya pendek. Ira langsung meminum teh hangat tersebut, namun agak canggung karena ia juga harus menutupi tubuhnya yang menjadi tontonan setiap orang di mall itu. Ketika ia mengangkat lengan untuk meminum dari gelas tadi, lekuk buah dadanya sangat jelas terlihat. Aku melotot melihatnya dan tiba-tiba ‘adik’ ku menjadi tegang, namun cepat-cepat kusingkirkan pikiran kotor itu.
Aku merasa iba, maka kulepas jaketku dan kupakaikan kepadanya lalu kurangkul tubuhnya. Terdengar seruan kecewa dari berbagai penjuru ketika tubuh Ira yang eksotis itu tertutupi jaketku. Aku menatap tajam kepada sekelompok cowok yang dari tadi tertawa-tawa sambil menunjuk Ira, ketika mereka sadar bahwa aku sedang memelototi mereka, mereka segera bubar.
Ira kaget melihat perlakuanku namun tidak menolak. Ia menatapku, tatapan yang tidak akan pernah kulupakan. Tatapannya menghujam begitu dalam, aku goyah.
Aku tidak kuasa menatap matanya lebih lama, maka aku melepaskan pelukanku dari bahunya dan memperlambat langkahku sehingga kini aku berada paling belakang. Aku malu, canggung dan merasa tidak enak dengan perlakuanku.
Awalnya aku merasa bahwa Ira akan marah besar kepadaku. Tetapi ternyata tidak, ia tetap bercanda denganku seperti biasa, namun kadang-kadang kupergoki dia sedang melirik ke arahku. Deg-degan juga, apa ini berarti ia ada perasaan kepadaku?
Suatu ketika, di kotaku ada acara besar…perayaan apa gitu, aku tidak ingat. Teman-teman satu geng ku mengajakku nonton pawai yang diadakan di alun-alun kota. Tetapi aku menolak, berhubung hari ini aku ingin cepat pulang. Kebetulan rumahku jauh dari alun-alun dan pusat kota. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya papasan dengan beberapa orang, itu saja mereka sedang menuju ke alun-alun. Selebihnya, kota ini seperti kota mati. Aku sangat heran, sebegitu meriahnya kah perayaan itu? Aku mengendarai motorku dengan santai, ketika sampai di perempatan, kulirik lampu lalu lintas; “Hijau, tancep cuy!”, pikirku. Di tengah-tengah persimpangan tiba-tiba ada sebuah motor (Tiger kalo nggak salah) melaju ke arahku dengan kecepatan tinggi, kelihatannya pengemudinya mabuk, tanpa helm, matanya merah dan mukanya kusut, aku menginjak rem, tapi sepertinya dia sengaja membelokkan motornya mengikuti gerakan motorku. Aku tercengang. Jarak kami tinggal 1 meter.
“Anjrit! Salahku apa sih?!”,umpatku dalam hati.
BRUAAKK!!! Sempat kulihat aspal yang menjauhi pandanganku dan…..PET! Semuanya gelap.

Hal pertama yang kurasakan adalah nyeri dan dingin di lengan kanan.
”Ah…aku dimana? Perasaan tadi aku tabrakan deh…apa aku udah mati?”,tanya ku dalam hati.
Kuberanikan diri membuka mata. Aku sedang berbaring di sofa. Langit-langit yang putih, aroma parfum yang manis, samar-samar kuingat bau parfum ini. Aku menoleh ke kanan dan kiri, kulihat teman-temanku duduk didekatku satu persatu, Ade, Feby dan….Ira!! Nafasku tertahan.
”Masih idup Rif? Hahahaha…”,canda Feby kepadaku
”Mujur banget loh kamu, Cuma memar di lengan doang! Motormu jadi rongsokan tuh dihalaman. Ga ada orang yang nolongin, pas ketemu Ira. Tapi…masa cowok pingsan sih?”,Ade menimpali sambil tertawa.
”Aduh! Loh kok pada disini?”,tanyaku sambil meringis menyentuh lengan kananku.
”Tadi aku dijalan pulang liat kamu lagi tidur di jalan, motormu ancur noh…jadi aku SMS Ade sama Feby, soalnya yang lain pada kejebak macet…alun-alun macet total, pas banget si Feby sama Ade belom berangkat, jadi mereka kusuruh kesini nolongin kamu”,jelas Ira panjang lebar sambil mengompres memar di lengan kananku.
Oooh….jadi ini sensasi dingin yang tadi kurasakan? Darahku berdesir…
”An angel speak to me…”,gumamku lirih.
”Hah? Apa Rif? Kamu ngomong apa? Pasti ngomong yang nggak-nggak nih! Dia ngomongin kamu loh Ra!”,cerocos Ade dengan cepat sambil nyengir.
”Apa? Apa iya? Kamu ngomong apa hah barusan?”,tanya Ira kepadaku.
”Ah nggak kok…nggak papa…gausah dipikir…hahahahaha”,jawabku.
Feby melirik jam tangannya, kemudian berkata, “Eh..eh…aku sama Ade pergi dulu yah? Uda di tungguin gebetan neh..hehehe…malem minggu cuy…hahaha”.
”Ehem…tau lah…tau…yang masih jomblo….”,sahut Ira sambil tertawa
”Cus yah men! Rif, nyetir yang bener dong! Hahahaha…yuk Ra, duluan yah!”,ujar Ade sambil mengambil helmnya.
”Okeh men? Duluan ya!!”,kata Feby sambil tersenyum. Entah kenapa aku merasa ada maksud lain dari senyuman Feby.
Ira mengantar Feby dan Ade keluar. Kulihat HP Ira tergeletak di atas meja, aku tidak mengerti kenapa, tapi aku langsung mengambil HP itu dan membuka inbox nya. Aku kaget…ternyata sangat banyak SMS yang isinya mengajak kenalan Ira, bahkan ketika aku sedang membaca SMS itu, masih ada saja SMS yang masuk. Lalu kulihat sent messages nya…aku tidak percaya dengan apa yang kulihat…Ira hanya membalas SMS ku dan teman-teman se geng ku…dan yang paling banyak adalah balasan SMS untukku. Memang sejak kejadian di kafe, aku dan Ira jadi sering SMS-an.
”Wawawawawawa……!!”,teriakku dalam hati karena senang.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan Ira masuk.
”Eh, Rif, kamu udah makan apa bel………”,ucapan Ira tiba-tiba terpotong begitu melihatku tengah asyik memainkan HP nya.
DEG!
Aku kaget setengah mati.
”Aduuhh…..****! ****!! Ntar bisa-bisa dia marah nih! Duuh..gimana yah?”,batinku panik.
”Udah makan belum kamu? Aku mau bikin mie, kamu mau nggak?”,ucap Ira seraya merebut HP nya dari tanganku lalu duduk di lantai di sebelahku. Kulihat dia mencoba menahan emosinya.
”Eh…euh….udah…aku udah makan kok…..hehehe”,jawabku salah tingkah.
Keheningan yang tidak enak menyelimuti kami. Aku dan Ira sama-sama panik dan salah tingkah. Akhirnya kuputuskan untuk membuka percakapan.
”Eh…aku sekarang dimana nih? Dari tadi aku mau tanya lupa-lupa terus”,tanyaku sekenanya
”Ini rumahku…kamu kecelakaan dekat sini. Karena ga ada orang lain, jalan juga bener-bener sepi, makanya kamu kubawa kerumah aja.”,Ira tersenyum canggung.
”Serius nih? Aku di rumahmu? Aku ga enak woi sama keluargamu, aku kan cowok!”,ujarku dengan cepat.
”Gak apa-apa kok…semua lagi di toko, jadi ga ada orang disini”,jawabnya lirih.
“Jadi…kita…cu..cuma..ber…berdu a di sini?”,tanyaku terbata-bata.
Ira hanya mengangguk pelan, dia menunduk kemudian menatap HP nya. Sekilas kulihat rona merah di wajahnya. Aku mencoba duduk dan tidak mempedulikan lenganku yang memar.
”Eh, jangan duduk dulu!”,cegahnya sambil memegangi tanganku.
Aku kaget, otomatis aku tatap matanya. Kami berdua bertatap-tatapan lama. Matanya yang teduh menunjukkan kedewasaan dan kasih sayang. Aku benar-benar speechless.
Memar di lenganku benar-benar tidak terasa. Beberapa detik kemudian Ira yang sadar duluan, dia tersipu.
”Oh iya. Aku bikin mie dulu ya…”,katanya mengalihkan keadaan.
Aku hanya diam…
Ketika dia berdiri, kutarik tangannya dengan cepat hingga wajah kami saling berdekatan.
Tubuhnya lebih tinggi sedikit dariku, mungkin sekitar 170 cm, kulitnya putih, langsing, dan buah dadanya tidak besar-besar amat namun menantang dan kelihatan sangat merangsang. Proporsional, lah. Rambutnya yang panjang lurus sebahu hitam dan terawat.
Ira menatap mataku dalam-dalam…sejenak aku ragu…”Haruskah?”,pikirku.
Kudekatkan bibirku, sepertinya Ira tidak merespon, maka aku melanjutkannya.
Kukecup bibirnya dengan penuh kasih sayang…dengan sepenuh hati. Tidak ada protes darinya, bahkan Ira malah memejamkan mata.
Kutarik dia dengan lembut dan kududukkan di sebelahku. Aku masih mencium bibirnya.
Sensasi yang kurasakan luar biasa, bibirnya hangat dan lembut. Kami berciuman kira-kira 3 menit. Dalam jangka waktu segitu, siapa sih yang gak terbakar nafsunya? Hehe…
Kulingkarkan tanganku di pinggangnya. Ira sudah membuka matanya dan matanya menerawang ke langit-langit. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan. Kusibak rambutnya, kemudian kulihat lehernya yang jenjang dan bersih, serta tercium wangi parfumnya.
Kucium leher kirinya.
”Mmmmmhh….”,Ira agak mendesah, dia meremas kedua tanganku.
Kubalikkan badannya, sekarang dia duduk membelakangiku. Kemudian kembali ku cium lehernya. Nafasku membuatnya geli.
”Uuuuuh…”,desahnya mulai tak terkendali
Tanganku membuka kancing seragamnya satu persatu. Ira memegangi tanganku, tetapi tidak melakukan perlawanan. Yaa otomatis kupikir ini lampu hijau. Heehehehe…
Setelah setengah seragamnya terbuka, kulihat bra nya yang berwarna krem, yang langsung kuturunkan. Kini dapat kulihat payudaranya, yang ternyata cukup besar dengan puting berwarna pink. Kulitnya luar biasa mulus.
”Ehm….ehm…!!”,Ira berdehem menyindir perlakuanku.
”Apaaaa? Kenapaaa??”,jawabku sambil nyengir.
Kuraba kedua payudaranya dengan tiba-tiba. Tubuhnya mengejang sekali, kaget kali yaa?
Langsung saja kuremas kedua payudaranya dengan lembut dan kupagut bibirnya.
”Nnnggggghh……mmmhh…!”,desahnya diantara ciuman kami.
Kupilin kedua putingnya. Kumainkan jari-jariku di kedua payudaranya.
”Nngg….aaaaahh….aaaahh…!”,Ira melepaskan bibirku dan lebih berkonsentrasi mendesah.
Aku tidak keberatan, biar dia merasakan rasanya jadi cewek.
Punggungku mulai kesemutan, maka kurebahkan Ira di sofa, namun dia menolak.
”Jangan….jangan…aku nggak mau…!”,ujarnya dengan nafas yang mulai memburu.
Aku memandangnya dengan bingung. Ira mengelus pipiku, matanya sayu khas cewek terangsang.
”Maksudku….jangan…disini…pinda h ke kamarku aja yuk”,katanya sambil tersenyum.
Waduh….bisa berabeh ni kalo di kamar, ntar kebablasan bisa repot! Tapi, instingku mengabaikan logika. Hehehehe….segera saja kuangkat tubuhnya dan kugendong, kalau sudah seperti ini, tangan patah pun tetap akan kugendong, hehehehe.
”Yang mana nih?”, aku tersenyum
”Itu”, jawabnya singkat sambil menunjuk sebuah pintu.
Tanpa buang waktu, kubuka pintu kamarnya, kubaringkan Ira di kasur dan cepat-cepat kututup pintu dari dalam. Langsung saja kulanjutkan permainan yang tadi sempat berhenti. Aku berbaring di sebelah kanannya dan mulai menciumi lehernya.
”Uuuh….uuuhh….”, Ira mendesah sambil mengrenyitkan alisnya.
Tanganku perlahan-lahan masuk ke dalam roknya. Kususuri dari perut dengan penuh penghayatan. Ketika akhirnya tanganku meraba celana dalamnya, aku menahan nafas.
Kuselipkan tanganku masuk celana dalamnya. Ternyata Ira sudah mencukur habis rambut kemaluannya. Segera saja ku gesek-gesekkan jari tengahku ke vaginanya.
”Hmmmff…..uuuaaaaaaahh…..aaaah h…aaaahh…!”,naf asnya tersengal-sengal dan desahannya berirama sesuai dengan gesekan jariku.
Ira mencengkeram tanganku dengan kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Ekspresinya begitu merangsang, penisku yang sedari tadi sudah tegang menjadi sangat tegang sampai-sampai celana dalamku terasa bagai belenggu, menyiksa ‘adik’ku.
”Gimana rasanya Ra? Enak?”,tanyaku
”Aaaahh…..e…uuuhhh…enaaakk….en aaaakk…..aaaahh…!!”, jawabnya setengah menjerit.
Melihatnya sangat mudah terangsang, aku berinisiatif mengulum putingnya. Kuremas buah dadanya dan kujilat-jilat.
”Ngggghh…..aaaaahh….aaaahh….ii yaaa….eee…eeenaaakk… .tee..teruusss..”
Ira mulai meracau, sepertinya dia sudah amat terangsang.
Kumainkan lidahku di putingnya dengan liar. Ira semakin kelojotan.
”Aaahh…aaa..ada yang…aaauuhh….mau….uuhh…keluaa aarrrhh!” ,katanya dengan nafas yang tidak beraturan.
”Eh? Oh…keluarin aja nggak apa-apa!”,jawabku sambil terus menjilati putingnya.
Sesaat kemudian tubuhnya bergetar hebat dan menegang. Ira mencengkeram tangan kananku kuat sekali, hingga kuku-kukunya menancap dan melukai tanganku. Luka-luka itu berdarah, tapi hal itu tak kupikirkan. Aku menikmati saat-saat Ira orgasme sambil tersenyum.
”A..apa yang barusan itu?”,tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.
”Loh? Kamu belom tau?”,aku balik bertanya.
”Nggak…nggak tau…emang apaan?”,ujarnya lemas, kehabisan tenaga.
”Itu yang namanya orgasme…masa sih kamu gak tau?”,tanyaku heran.
”Ooh…sori..aku ga tau masalah begituan…tapi..rasanya enak banget…gak bisa dijelasin pake kata-kata”,Ira tersenyum.
Aku heran dan berpikir, “Berarti dia polos banget sampe gak tau yang namanya orgasme. Lagian, gampang banget dirangsang…coba ah yang lebih.”
Aku meringis saat tanganku yang luka bergesekkan dengan seragam yang kukenakan. Ada sepuluh bekas kuku, semuanya meneteskan darah segar. Aku berdiri dan mengambil sekotak tissue di meja belajar Ira dan mulai mengelap darah yang bercucuran.
”Itu…maaf…sakit ya?” , tanyanya dengan wajah bersalah ketika melihat tanganku berdarah.
”Nggak…nggak apa-apa kok…hehehe…santai aja!”, jawabku sambil tertawa.
”Aku jadi nggak enak…kamu abis kecelakaan malah jadi tambah luka gara-gara aku”, desah Ira.
”Udah…gak apa-apa…sekarang kamu diem yaa?” aku berjalan ke arahnya.
Aku duduk disampingnya, tanganku menyelinap ke dalam roknya dan melepas celana dalamnya yang sudah basah. Ira tidak dapat berbuat apa-apa, kelihatannya dia masih sangat lemas karena orgasme barusan.
”Kamu mau ngapain Rif?” tanya Ira, kelihatannya dia khawatir.
Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya. Saat sudah kulepas, celana dalamnya kulempar entah kemana, maklum, nafsu udah di puncrit, kaga bisa nahan.
Kusingkap roknya hingga dekat pangkal paha, memperlihatkan pahanya yang suangat mulus, liurku menetes melihatnya. Ku elus-elus pahanya.
”Aaaawwwhhh……”, Ira kembali mendesah karena perlakuanku.
Kudekatkan wajahku kearah vaginanya. Vagina yang begitu bersih, berwarna pink, tanpa ada bulu sedikitpun dan aromanya enak. Wangi parfum yang biasa dipakai Ira samar-samar tercium, “Apa dia nyemprotin parfum ke sini juga ya? Ah bodo amat!”
Ketika hambusan nafasku mengenai daerah sensitifnya, dia berkata;
”Rif, mau ngapain kamu? Ntar…ntar dulu…aku belum siap kalo sampai kayak gini…stop…stoopp…aaaaahhhhh!!! ”, Ira menjerit ketika kubenamkan lidahku kedalam vaginanya.
Segera saja vaginanya kulumat, kujilat dengan liar, kucium dan kugigit-gigit kecil.
Benar saja, kakinya mengejang setiap kali kugigit klitorisnya.
”Aaaaaaaaaaaaahhhh…..aaaaahhhh h….uuuuhhh….sssshh…s sshhh…..!!”, desahannya semakin menggila, membuat ‘adik’ku ingin cepat memproklamasikan kemerdekaan dari belenggu penjajahan celana dalam.
Rasa nyeri menyerang ‘adik’ku ketika celana dalam ini rasanya sudah kelewatan menyiksa, tapi tetap kutahan. Di luar dugaan, Ira mulai menangis, air matanya mulai mengalir disela-sela desahan penuh kenikmatannya. Aku jadi bingung, kuhentikan jilatanku.
”Ra, kamu kenapa nangis?”,tanyaku berdebar-debar.
”Aku…udah capek Rif…aku udah nggak kuat kalo kamu terus-terusan ngeginiin aku…”, katanya dengan polos sambil terisak-isak.
Aku diam saja.
”Bukannya aku nggak mau, tapi aku udah capek banget…dari tadi, badanku rasanya lemes…tangan sama kakiku udah mati rasa. Aku udah gak kuat.”, jelasnya.
Demi mendengar pengakuannya, ‘my little brother’ yang sudah berkibar dengan gagahnya seperti kehilangan tenaga, sontak ‘adik’ku lemas lagi, bak nasionalis dibedil kompeni. Aku merasa bersalah.
Tanpa berkata apa-apa, aku berjalan ke lemari pakaian Ira, mengambil satu celana dalam dan memakaikannya pada Ira. Kubereskan sprei yang acak-acakan akibat pertempuran tadi, kurapikan bra-nya yang lepas dan kukancingkan seragamnya. Kuangakat Ira dan kurebahkan kepalanya di bantal kemudian kuselimuti dengan selimut tebal. Ira menatapku dengan pandangan heran.
”Rif? Kamu marah ya? Please, ngertiin aku…aku capek banget…gak kuat”, ucapnya memelas. Namun aku masih juga tidak berkata apapun.
”Ra, aku….sebenernya udah dari dulu mendam perasaan ke kamu. Aku…aku…sayang sama kamu…”, ucapku, aku tidak menyangka bakal mengutarakan perasaanku di saat seperti ini.
Dia tertegun mendengar pernyataanku.
”Mmm…Rif…aku…”, sepertinya Ira mau mengatakan sesuatu, tapi buru-buru kucium bibirnya dan aku berlari keluar kamar.
Aku berjalan ke ruang tamu, memakai ranselku dan mengambil helm. Saat aku keluar halaman rumah Ira, kulihat motorku yang ringsek seperti gelandangan digebuki Satpol PP. Aku nyengir; “Hahahaha…shiit…aku pulang pake apaan nih?”, kataku pada diri sendiri. Akhirnya aku pulang jalan kaki sekitar 4,5 km ditemani hujan yang sangat lebat.
Sesesampainya dirumah, ada secarik kertas ditempel di pintu yang bertuliskan :
”Mama dan Papa pergi seminar di luar kota, kira-kira satu minggu. Urus diri sendiri ya? Kalau ada apa-apa, telpon Mama atau Papa.”
“Gila…aku idup pake apaan nih 1 minggu? Makan kerikil?”, umpatku.
Malamnya badanku terasa tidak enak. Benar saja, esok paginya aku demam tinggi, maka kuputuskan untuk tidak masuk sekolah. Siang harinya aku bangun kemudian mandi, tak lama setelah itu, ada orang menggedor-gedor pintu rumah dengan kasar.
Dengan sempoyongan aku membukakan pintu, dihadapanku berdiri sesosok makhluk dengan ukuran tidak manusiawi, tinggi besar dan hitam. Tetapi setelah kuperhatikan, ternyata dia adalah Setyo.
”Kok gak masuk tadi coy?”, tanya Setyo ceria.
”Loh? Tau darimana? Perasaan kita beda SMA deh…”, aku kebingungan.
”Itu, Rangga tadi SMS, dia mau jenguk bareng Tama, tapi ada tugas mendadak, jadi nggak jadi.”, ujarnya sambil meringis-meringis.
“Ni orang otaknya kenapa sih?”, tanyaku dalam hati.
”Oh, yaudah masuk dulu…aku demam coy…kepalaku sakit banget…”, kataku sambil mempersilahkan Setyo masuk.
”Nggak ah, makasih, aku mau langsungan..hehehe”, jawab Setyo cengar-cengir.
”Ini orang kenapa sih? Aku bener-bener nggak ngerti”, pikirku.
“Aku pulang dulu ya Rif, cepet sembuh coy!” kata Setyo sambil berjalan keluar gerbang
”Iyaa…makasih ya Dan!”, sahutku ceria.
Ketika Setyo telah pergi, ternyata tepat di belakang tempat Setyo berdiri tadi ada sesosok makhluk lain yang memperhatikanku, dia mengenakan pakaian putih dan menyeringai. Rasa dingin merayapiku.
”Woi! Kaya liat setan aja! Kenapa sih?”, tanya Ira membuyarkan lamunan horrorku.
”Eh? Loh?”, tanyaku kebingungan.
“Emang mukaku kaya setan yaa?”, tanyanya lagi dengan bibir manyun.
”Ah, bukan..bukan…tadi aku halusinasi…maaf.”, jawabku.
“Jadiiii…..?” ,tanya Ira, dia tersenyum.
”Jadi apaan?” ,aku semakin kebingungan.
”Aku gak disuruh masuk atau gimana gitu?” ,sindirnya sambil tertawa.
”Oh iya….maaf…ayo masuk…maaf berantakan…” ,aku mempersilahkannya masuk.
Begitu aku membalikkan badan setelah mengunci pintu, Ira tidak ada di ruang tamu. Aku kebingungan…apakah yang kulihat tadi hantu? Perasaanku jadi tidak enak, maka kuputuskan untuk tidur lagi. Mungkin aku terlalu lelah. Ketika aku masuk kamar, tiba-tiba pintu kamarku tertutup sendiri. Aku mematung ketakutan. Pelan-pelan aku menoleh ke belakang dan melihat Ira sedang nyengir melihat reaksiku dengan gayanya yang khas, kedua tangannya dimasukkan saku jaketnya yang berwarna putih.
”Eh kunyuk, udah tau aku lagi sakit, masih aja jail.” ,aku duduk di tepian tempat tidur sambil menghela nafas.
”Iya maaf…hehehe…gimana sakitnya?” ,Ira duduk disebelahku.
”Udah ada kamu, jadi aku udah gak apa-apa.” ,aku menatap matanya sambil tersenyum.
Ira tampak terkejut mendengar jawabanku. Sejenak kami saling berpandangan. Perasaan hangat membuncah dari dalam hatiku…aku cinta mati kepada cewek di hadapanku ini.
Matanya yang paling kusuka, mata yang teduh itu, mata yang memancarkan ketenangan dan kedewasaan yang begitu dalam.
”Ah iya. Aku bawa makanan nih. Tadi aku beli di kantin.” ,katanya mengalihkan pembicaraan.
”Aku kan udah bilang. Kamu ada disini aja udah cukup.” ,kataku sambil memeluknya dari belakang, kulingkarkan tanganku di pinggangnya, berharap Ira bisa merasakan kehangatan yang mengalir dari hatiku.
Dia terdiam sesaat, sepertinya ia merasa canggung. Tetapi tidak mengubah posisinya dan melanjutkan menawari aku berbagai macam makanan.
”Aku juga bawa buah loh. Mau nggak? Ada macem-macem, ada apel, jeruk, pear. Mau yang mana?” ,tanyanya dengan terburu-buru. Ira mengeluarkan sebuah apel dari dalam tasnya.
“Kamu sekolah apa kondangan sih?” aku mengejeknya
“Hehehhe…sekolah, tapi buku pelajaran udah aku taruh dirumah tadi” Ira tertawa
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Menikmati tiap detik yang kulalui, aku merasa tenang mencium wangi tubuhnya. Aku…ingin begini selamanya…
”Aku mau dong buahnya.” ,jawabku.
”Oh? Mau yang mana?” ,tangannya masih menggenggam sebuah apel.
”Aku maauuu….” ,rengekku dengan manja.
”Iyaaa….mau yang mana ? Apel? Jeruk? Pear?” ,jawabnya sambil tersenyum.
”Gaak….aku gamau semuanya….” ,bantahku.
”Loh? Katanya mau buah? Yang mana nih?” ,Ira tampak kebingungan.
”Aku mau buah yang ini…” ,tanganku dengan sigap melepas kancing seragam dan menyelinap ke balik bh yang dipakainya. Kuremas-remas buah dadanya dengan lembut.
”Aaaaaahh…..Rif jangan…!!” ,desah Ira, apel yang ada ditangannya jatuh ke lantai.
Langsung saja kulumat bibirnya.
”Mmmmmhh…..mmmhh….!” ,Ira berusaha mendesah, tetapi terhalang oleh bibirku.
Tangan kiriku menyusuri buah dadanya, kemudian turun ke perut, masuk ke rok lalu kuselipkan kedalam celana dalamnya. “Belum basah.” ,pikirku. Kutarik tangan kiriku dan kujilat jari tengahku, kemudian kuselipkan lagi masuk celana dalamnya. Langsung saja kugesek-gesekkan jariku ke vaginanya.
”Iyaaaaaaaahh….aaaaaaahhh….aaa aahhhhh….aawwh…mmmhh …!!” ,Ira mendorong bibirku menjauh agar bisa mendesah, nafasnya sudah tidak beraturan.
Mulutku kini bebas. Langsung saja kupakai untuk menciumi leher jenjangnya yang menggairahkan. Beberapa menit aku mengerjai Ira dengan menambah intens gesekan dan remasan di tubuhnya tiap menit yang berlalu. Kamarku kini dipenuhi suara desahan dan lenguhan nikmat Ira.
”Aaakuu….aaaahhnn….aaaahh….ngg ghh….maauu….aaahh…aa ahh….keluaaarr….uaaaaahh….!” ,pekiknya tertahan.
Pahanya mengapit erat tangan kiriku, sementara kedua tangannya mencengkeram tangan kiriku juga. Kini kuku-kuku kedua tangannya kembali menancap di tanganku, kali ini tangan kiri. Tubuhnya mengejang hebat, sesaat kemudian Ira jatuh terduduk di lantai kamarku. Nafasnya tersengal-sengal, karpet lantai kamarku basah oleh cairan orgasmenya.
”Ihiiy…ciyee…ciyeee…yang habis orgasme…hahaha” ,candaku.
”Berisik! Diem lah kamu…! Haahaha” ,jawab Ira, bibirnya bergetar hebat.
”Iya..iya…nambah juga nih koleksi tattoo di tanganku. Kemarin yang kanan, sekarang yang kiri…hahaha…” ,sindirku
“Ma…maaf…aku nggak sengaja…sungguh…”
”Iya, nggak apa-apa kok…” ,jawabku singkat
Kubantu dia berdiri, sesaat kami berpelukan, kutatap matanya…mata yang indah yang selalu kudambakan…kemudian kucium bibirnya dengan lembut…
Kulepas sepatunya yang dari tadi masih dipakainya dan kutidurkan dikasur. Aku berbaring di sampingnya. Setelah nafasnya teratur, tiba-tiba dia berdiri dan melepas rok beserta celana dalamnya.
”Eh…eeh…mau ngapain kamu? Mabok yah?” ,tanyaku terkejut sekaligus heran.
”Hehehehe…” ,Ira hanya terkekeh.
Sekarang dia hanya mengenakan seragam yang sudah kusut dan kancingnya terbuka setengah, tanpa rok maupun celana dalam. Sontak ‘adik’ku menegang dengan hebatnya, jadi keras kayak mayat siap dikubur.
Dengan cepat, Ira menidurkanku, sekarang posisi kami 69, favoritku. Hehehehe…
Vaginanya tepat berada didepan wajahku.
”Ih…wooww…” ,gumamku takjub.
”Kenapa?” ,tanya Ira
”Unyuuuuuu…..hahaha” ,langsung saja kugesek-gesek vaginanya dengan jari.
”Aaaaahh….na…nakal…!” ,desahnya dengan manja
Ira mengelus-elus penisku dari luar celana yang kukenakan. Geli gimana gitu. Jadi tambah tegang.
”Eh, Ra, kamu serius nih? Udah pernah kaya ginian belum?” ,tanyaku tidak yakin
”He eh…santai aja. Belom…ini yang pertama. Hehehe” ,dia membuka celanaku
”Apa gapapa nih? Yakin kamu?” ,aku masih belum yakin.
”Iiih…gak percaya amat. Coba aku praktekin kayak tadi malem waktu aku liat bo…….kep?” ,kata-katanya sempat terhenti ketika celana dalamku sudah terlepas dan ‘adik’ku dengan gagah berdiri, dengan bentuk evolusi akhir.
Aku pun agak kaget; “Woi! Itu kamu ‘dik’? Kamu kenapa hah bisa sampe kaya gitu?” ,tanyaku kepada sang ‘adik’ dalam hati.
“Hehehe…jadi malu…” ,aku tersenyum
”Wow…ternyata gini toh…anunya cowok…” ,tatapnya penasaran sambil memegang batang penisku. Rasanya aneh, tapi enak.
”Eh, apa tadi malem kamu nonton bokep?” ,tanyaku
”Iya…yaa walopun aku sempat muntah ngeliatnya…baru pertama aku liat bokep..” ,jawab Ira tersipu.
Tanpa ba bi bu, Ira langsung memasukkan penisku ke mulutnya dengan agak canggung. Dia jilati dari ujung ke pangkal. Rasa dingin sekaligus hangat menyelimuti penisku. Tiap gesekan dengan lidahnya membawa sensasi nikmat, membuatku merinding.
”Oooohh…..” ,aku mengerang, seluruh tubuhku gemetar karena nikmat
”Coba aku praktekin kayak yang di bokep ya?”
Dia memaju-mundurkan kepalanya, penisku keluar masuk mulutnya dengan bebas.
Ketika aku menyentakkan pinggulku, penisku masuk terlalu dalam ke tenggorokannya.
”Hmph…” , Ira memejamkan matanya rapat-rapat saat penisku masuk sampai tenggorokannya
”Uups…sori…gimana rasanya?” ,kataku.
“Mmm…ga terlalu buruk kok…tapi aneh sih…” ia melepaskan penisku dari mulutnya supaya bisa berbicara.
Ku belai-belai dan kubuka sedikit bibir vaginanya. Dari sini, aku bisa melihat jelas klitorisnya yang waktu itu belum sempat dieksploitasi besar-besaran oleh lidahku. Kuhisap klitorisnya, kugigit kecil dan kubelit dengan lidahku. Responnya diluar dugaan.
”Mmmmmmuaaaahhh…..aaaaarrrghhh ….!! Disitu…aaaaagghh….aaaahh…aaahh h…” ,teriak Ira. Dia melepaskan penisku dari mulutnya, ia menjerit dan kepalanya mendongak keatas.
Kemudian kepalanya terkulai lemas disamping penisku yang masih dengan angkuh berdiri. Sesekali dia menjilat batang penisku dengan lemah. Wajahnya sayu, kelelahan. Melihatnya dalam kondisi seperti ini, nafsuku semakin meledak. Serangan lidahku semakin gencar di klitorisnya.
”Ngggghhh…..aaahhh…aaaahhh….uu uuhhh…..mmmhhh…..ter us Riff…terusin…ooohh….iyaaaahh…” ,matanya terpejam dan nafasnya pendek-pendek.
Beberapa detik kemudian, Ira menekan vaginanya ke mulutku dengan kuat, aku megap-megap. Tubuhnya bergetar hebat.
”Riiiiiiiiifff……aku….keluaaaaa aaaaaarrr….!!” ,jeritnya.
Dia mengalami orgasme yang kedua kalinya. Cairan orgasmenya membasahi mulutku. Euh…baunya aku tidak tahan. Segera setelah itu, dia terkulai lemas diatas tubuhku.
”Makasiih Ra…mulutku basah semua!” ,ujarku kepadanya dengan nada sinis.
”Mmmmhh…?” ,matanya terpejam dan kelihatan sangat lemas
Aku duduk dan mengangkat pinggulnya dari belakang. Dari posisi ini, aku dapat melihat punggungnya yang basah oleh keringat dan wajahnya yang kelelahan.
“Sekarang, gantian yaa” ,ucapku santai. Dari belakang, kulucuti semua pakaiannya hingga dia telanjang bulat.
“Jangan…Rif…aku masih virgin…” ujarnya lirih, nafasnya berat dan pendek
Ira masih tersengal-sengal ketika kutempelkan penisku di vaginanya. Aku tahu kalau dia tidak akan melawan, pasti sudah kelelahan akibat dua kali orgasme. Dengan bantuan tangan, kujejalkan penisku yang sudah basah masuk ke dalam vaginanya.
Separuh kepala penisku ditelan vaginanya.
“Aaaargh! S-sakit Rif! Sakiit!! Cabut! Jangan diterusin! Aaaarrggghh!!” ,Ira berteriak keras sekali. Matanya terbelalak, tangannya menggapai-gapai meraih penisku, mencoba mencabutnya.
Dengan kedua tanganku yang masih bebas, kutekan bagian sikunya sehingga dia tidak dapat menjangkau penisku. Dengan satu hentakan keras, kujejalkan penisku seluruhnya. Kini seluruh penisku telah masuk. Darah segar mengalir pelan dari bibir vaginanya.
”Aaaaaaaahhhh!!” ,Ira berteriak pilu dan mulai menangis.
Rasanya enak sekali, walaupun sempit, tapi vaginanya hangat dan meremas-remas penisku. Uuuh….nikmatnya. Pelan-pelan kupompa penisku keluar masuk vaginanya.
Kugenjot Ira beberapa menit sampai kemudian kudengar desahan disela isak tangisnya.
”Lama-lama enak kan?” ,tanyaku sambil tersenyum
”Sakit…” ,air matanya mengalir
Beberapa saat kemudian, ketika sudah mulai terbiasa, Ira sudah tidak lagi menangis namun mendesah tidak karuan. Aku tersenyum. Kupompa lagi vaginanya dengan kekuatan penuh.
”Auh…uuh…teruss Rif…cepetin…aaahh…iyaa…disitu… mmhh…teruss..” ,Ira meracau.
Kubalikkan badannya sehingga kini dia telentang dihadapanku. Kugenjot vaginanya dari depan.
”Uuuhh…..enak Ra…aahh…aahh…” ,aku sudah tidak mampu menahan desahan.
”Iyaa…aaahhh…aku juga….uuuhh…enaakk….teruss Riiiff…ooohhh…” ,sahutnya.
Aku tidak merubah posisiku. Aku dan Ira terus bermain pada posisi ini sampai kira-kira 20 menit, hingga mendekati klimaks.
”Kkamu…selesai dapet kapan Ra…?” ,tanyaku sambil menahan nafas
”Tiga…aaaahh…hari yang lalu…aahh…ngghhh…” ,lenguhnya
”Hmff…aku…hampir…sampai….aaahh …ahhh….” ,ujarku
”Aku….uuh…juga…aaahh…”
Penisku berdenyut-denyut.
”Kita…keluar…bareng yaa…” ,kataku
Beberapa detik kemudian, aku rebah dan memeluk tubuhnya dengan erat
”Akuu…..keluaarr…incoming……!!” ,aku mengerang
”Aaaaaaaaahhhhhh…..!” ,jawab Ira dengan jeritan
”Aaaaaarrrrrgggghhhh!!!” ,kami berdua mengerang pada saat yang bersamaan
Croott…crooottt…crooott…sperma ku mengalir dengan deras didalam vaginanya.
Pada saat bersamaan, Ira juga mengalami orgasme. Vaginanya meremas penisku dengan kuat, tubuhnya mengejang dan melengkung.
Kami berdua memejamkan mata dengan rapat dan saling berpelukan, menikmati tiap detik sensasi yang kami rasakan. Rasa hangat mengalir keseluruh tubuhku. Tubuhku dan Ira sama-sama bersimbah keringat. Aku melepas pelukan dan membaringkan diri disampingnya
Aku menoleh, kutatap wajahnya yang dipenuhi berbagai macam ekspresi, antara lelah, senang, puas, sedih, dan takut. Semua bercampur jadi satu.
“Kamu udah ngambil virginitasku Rif…jangan tinggalin aku…” Ira berkata sambil menahan tangis
”No matter what happen, even when the sky is falling down, I promise you that I will never let you go. Aku sayang banget sama kamu Ra…makasih ya..” ,ucapku sambil tersenyum, lalu kukecup keningnya.
Ira hanya tersenyum sedih dan menyandarkan kepalanya di dadaku kemudian terlelap. Kupeluk dia dengan penuh kasih sayang. Kutarik selimut hingga sebatas dadaku dan aku pun tidur.
Malam itu, Ira menelpon rumahnya untuk memberitahu bahwa dia sedang menginap dirumah teman ceweknya, padahal dia sedang tiduran denganku di kamar. Ini malam minggu, jadi aku tidak perlu khawatir.
Minggu pagi…
Aku merasa silau karena sinar matahari pagi tepat mengenai mataku. Aku bangun dengan malas. Ketika kulihat kesamping, Ira masih terlelap tanpa pakaian. Spontan ‘adik’ku kaget setengah mati dan melonjak tegang.
”Auh!” ,aku agak berteriak karena merasa ‘adik’ku senut-senut.
”Mmmh…udah pagi ya?” ,Ira terbangun mendengar suaraku.
Sejenak dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian ketika matanya sudah terbiasa, dia terbelalak mendapati dirinya tidak memakai pakaian apapun dan melihatku berbaring disampingnya tanpa mengenakan pakaian.
”Halo Ra! Paa–”
PLAKK!!!!
Satu tamparan sukses mendarat di pipi kananku. Dia buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut.
”Apa-apaan sih?! Pagi-pagi aku udah dianiaya!” ,kataku sebal sambil mengusap-usap bekas tamparannya dipipiku.
Ira tampak bingung. Kemudian setelah melihat sekelilingnya, dia baru sadar.
”Aduh! Maaf Rif! Aku nggak inget kalo semalem aku tidur sama kamu..!” ,ujarnya panik
”Grrrr…!!” ,aku menggeram marah
Ira tampak ketakutan melihat reaksiku. Tangannya agak gemetar.
Segera saja kuterjang dia, aku melompat dan mendarat diatas tubuhnya, kedua tangannya kutahan.
“Kamu ini!” ,geramku, kemudian kucium lehernya dengan lembut.
”Aaahh…maaf Rif…aku…mmmhh….nggak sengaja…hhh…” ,desahnya.
Kugesek-gesekkan penisku di selangkangannya sementara lehernya masih kucium.
Ketika tanganku sudah mulai turun ke buah dadanya, HP ku berbunyi dengan nyaring.
Spontan kuhentikan aktivitas dan kuraih HP ku. Sepintas kulihat raut wajah Ira yang sebal karena merasa terganggu, kemudian ia menarik selimut hingga ke atas kepala..
Cih! Ganggu aja ni orang…
Ada panggilan masuk. Kulihat nama yang tertera di layar HP ku : Rangga.
”Yo Ngga! Kenapa?”
”Dasar! Dari tadi malem aku telpon kamu tapi nggak diangkat!”
“Sori…sori men…kagak denger…! Ada apa?”
”Mau tanya keadaanmu gimana. Katanya sakit, kok ceria gitu?”
”Ah…udah sembuh…makasih…”
”Eh, kita-kita mau pada main nih ikut nggak?”
”Motorku ancur Ngga…mau naik apa?”
”Udaah…kumpul dirumahnya Tama, jam 12 yaa. Bawa baju ganti buat 3 hari.”
“Eeh, tunggu Ngga!”
Belum sempat aku menyelesaikan kata-kata, panggilan sudah diputus oleh Rangga.
Aku mematikan HP dan berjalan ke arah Ira yang meringkuk dibalik selimut.
Aku masuk ke balik selimut, tanganku meraba-raba.
”Iraaaa…..” ,kataku ketika tanganku sudah menemukan apa yang kucari.
”Kenapa? Aaaww…masih pagi udah ngremes-remes susu…geli tau!” ,jawab Ira sambil menyingkap selimut dan mencoba menyingkirkan tanganku dari buah dadanya.
Ira tersenyum, senyum yang manis sekali dan aku merasa nge-fly mengetahui bahwa senyum itu ditujukan padaku.
”Biar deh…hehehe…peluk dong!” ,ucapku dengan manja
”Iih..manja amat sih…” ,ejeknya, tetapi dia tertawa lalu memelukku.
Kami berdua berpelukan dengan mesra. Aku meletakkan kepalaku di dadanya. Terasa kenyal dan hangat. Aku merasa sangat nyaman, kunikmati setiap jengkal kulitnya yang mulus di tubuhku.
”Ssstt…liat sini deh..” ,panggilku
”Hmm?” ,ia menunduk menatap wajahku
Segera saja kucium bibirnya dengan lembut. Bibir kami bertautan cukup lama. Aku melepaskan bibirku dan kutatap matanya. Mata yang tidak berubah, mata yang selalu membuatku terpesona. Ira membuatku benar-benar jatuh cinta padanya. Kami berpelukan lagi.
Setelah membersihkan diri, aku mengantar Ira pulang naik motorku yang satunya.
Kemudian aku langsung menuju ke rumah Tama. Entah kenapa Rangga menelepon tidak jelas seperti itu.
”Hoi! Sori telat!” ,kataku kepada teman-teman se geng ku. Mereka sedang duduk diteras.
Aku membuka pagar dan masuk ke halaman rumah Tama
”Aaah ga asik ah! Pacaran mulu!” ,ejek Setyo
”Pacaran your head! Punya juga belom” ,bantahku sambil tertawa
”Udah udah…gini loh, mobil ayahku nganggur nih. Besok kita libur 1 minggu. Mau main kemana?” ,jelas Tama
”Kepantai yuuk!” ,usul Rangga dengan senyum lebar
”Pantai? Bosen cuy…yang lain coba…” ,tolak Setyo
“Gimana kalo kita ke gunung gitu?” usulku
”Yaaa! Boleh! Tapi mau kemana?” jawab Tama semangat
”Ada tempat yang bagus sii…telaga di dataran tinggi, ada camping groundnya juga.” ucapku sambil menyebutkan nama suatu daerah
“Hmm….bagus juga…kapan nih kita berangkat?” tanya Tama lagi
”Mobilmu kosong mulai kapan? Siapa yang mau nyetir?” interupsi Setyo
”Sore ini udah kosong. Nyetir? Rangga aja gimana?” jawab Tama
”Okeh!” Rangga menyahut
”Bawa anak-anak cewek ga nih?” tanyaku penuh harap
Semuanya hanya memandangku dengan menyunggingkan senyum mesum. Aku sudah tahu jawaban mereka.
Maka esok paginya kami dengan pasangan masing-masing kumpul dirumah Tama. Seakan-akan surga mengijinkan, orang tua Tama pergi keluar kota bersama teman-teman kantor mereka, jadi tidak akan ada yang menanyai kami kenapa membawa cewek-cewek.
Aku dengan Ira, Rangga dengan Angel, Setyo dengan Dian, dan Tama dengan Luna.
Sayangnya mobil penuh, sehingga Ade dan Feby memutuskan untuk tidak ikut.
”Heh! Katanya bawa cewek sendiri. Kok malah ngajak Ira sih?” ******* Rangga ketika aku dan Ira datang.
”Hayoo…kalian jadian kapan hah?” goda Setyo sambil meraih tangan Dian
Aku dan Ira hanya tersenyum. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
”Uuuuff….panas ya? Ohya, anak cewek yang lain pada dimana?” tanya Ira sambil mengibaskan tangan karena kepanasan
”Noh di dalem…lagi pada ngadem” sahut Tama tanpa memalingkan wajah. Ia sibuk mengecek mesin mobil bersama Rangga
”Aku ganti baju dulu yah Rif? Panas nih…” tanya Ira kepadaku. Aku hanya mengangguk.
Ira mengambil tas yang ada di motorku kemudian berlari kecil masuk ke rumah Tama.
Tak lama kemudian terdengar anak-anak cewek pada cekikikan. Tak tau apa yang mereka bicarakan.
Beberapa lama kemudian…
”Oii…mobil dah siap nih…girls, ayo berangkat!” Rangga berteriak dengan semangat.
”Tam, aku titip motor ya? Kumasukin garasi ya?” seruku kepada Tama diiringi anggukan kepalanya.
Setelah aku keluar garasi, kulihat semua anak-anak sudah naik mobil semua kecuali Ira. Dia berdiri di depan pintu, menungguku. Rupanya dia telah mengganti pakaian, sekarang dia mengenakan kaos santai dan … … what the hell?! Dia memakai rok mini!
Uuh…adikku menggeliat dari tidurnya merasa terganggu dengan pemandangan dihadapanku. Begitu aku berjalan disebelahnya, Ira menggamit lenganku. Dadanya yang kenyal bersentuhan dengan lengan kananku. Adikku sudah setengah sadar…
”Hoi! Cepetan!!” Setyo berseru tidak sabar
Aku dan Ira pun naik ke mobil. Kami duduk dengan pasangan masing-masing.
Angel duduk disebelah Rangga yang sedang mengemudi, Tama dan Luna duduk dibelakang bersama Setyo dan Dian. Sementara mereka membiarkanku berdua dengan Ira di kursi tengah. Mobilpun melaju dengan mulus.
Tama dan Setyo sibuk dengan cewek mereka masing-masing. Rangga menyetir sambil bercakap-cakap dengan Angel. Aku yang duduk disebelah kiri Ira, memilih membaringkan kepalaku di pahanya yang putih mulus.
”Hei…” aku memanggil Ira.
Dia menoleh kearahku. Kutatap matanya yang teduh dan akupun tersenyum. Ira membalas senyumanku, kemudian ia mengelus pipiku. Aaah…aku sangat bahagia. Sejenak, kata-kata gombal yang dilontarkan Tama kepada Luna, suara khas kuli pelabuhan Setyo, dan obrolan tak jelas Rangga dengan Angel mendadak hilang.
Kesunyian ini bertahan hingga Setyo berteriak menawarkan makanan ringan kepada kami. Aku dan Ira sama sama menggeleng.
Aku kembali tiduran dengan menghadap ke arah Ira. Kuberanikan diri mengangkat rok mininya sedikit, mencoba mengintip kedalam roknya.
”Sssstt!!” Ira menghardik dengan risih sambil menyingkirkan tanganku.
Aku tersenyum salah tingkah. Namun Ira juga tersenyum melihat tingkahku.
Sepertinya adikku benar-benar mengamuk, menggedor-gedor hingga celana jeans yang kukenakan menonjol. Sesak sekali. Spontan aku menekuk lutut dengan cepat. Ira yang kaget menoleh, dan ketika melihat tonjolan di celanaku, senyumnya menjadi canggung.
Tiba-tiba….
”Aaaahh….ssshhh…..aaaahhh….” ada suara desahan dari belakang
Otomatis aku melonjak terduduk, aku dan Ira sama-sama menoleh kebelakang.
Kami berdua terhenyak, pemandangan yang kami lihat benar-benar tak dapat dipercaya.
Dian sedang dipangku oleh Setyo, sementara tangan Setyo masuk kedalam kaosnya dan meremas-remas payudaranya.
Tama sedang sibuk menciumi leher Luna, diiringi desahan-desahan dari kedua pasangan.
Aku dan Ira kembali menoleh kedepan dengan melotot, tak percaya apa yang baru saja kami lihat. Kutatap Ira, dibibirku tersungging senyum nakal. Ia mengerti maksudku.
Segera saja kuangkat kedua kakinya, kemudian aku melepas celana dalamnya. Kali ini Ira tidak melawan. Dengan gerakan tiba-tiba, kusapukan lidahku di vaginanya, kujilat dan kuhisap klitorisnya. Tubuhnya menegang.
”Aaaaahhnnn…..nggghh…..aaaaahh h….aaaasssshhh…..uuu hh..” desah Ira dengan penuh kenikmatan. Tangan kanannya menjambak rambutku sementara tangan kirinya terkulai lemas di leherku. Matanya terpejam, menandakan dia menikmati kehangatan lidahku yang keluar masuk lubang vaginanya.
Tiba-tiba suasana menjadi sunyi. Tama dan Setyo menghentikan aktivitasnya, Luna dan Dian berhenti mendesah dan memperhatikan Ira dengan rasa ingin tahu. Sepertinya mereka penasaran karena suara desahan Ira yang jelas-jelas penuh dengan kenikmatan.
Ira tersadar, kemudian dia sadar bahwa Tama, Setyo, Luna dan Dian memandangnya dengan ekspresi heran. Wajahnya langsung memerah karena malu, dia menunduk, mengambil celana dalamnya yang jatuh kemudian langsung mendorong kepalaku dan menutupi roknya dengan kedua tangan.
Mulai saat itu, semua anak diam tak bersuara sampai tujuan kecuali Angel dan Rangga yang sibuk ngobrol, sepertinya mereka tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya diam saja.